This blog is only exhibition of my expression. I write to inspire myself to be better. If it also can inspire other person, it is bonus. I will be happy if it also can inspire other person. I also will be happy if you want to discuss with me because i like discussing. Happy reading

UUD 1945 Pasal 31 Ayat 4 Hanya Wacana


Alkisah pada suatu hari saya membaca koran.

Ketika itu saya membaca artikel tentang sebuah bangunan SD negeri di Lebak, Banten, yang disebutkan mirip kandang ayam.

Bangunan SD negeri itu berlantaikan tanah, berdindingkan bambu, dan beratapkan bambu.

Saya langsung ingat bahwa Wapres Bapak Jusuf Kalla pernah berpidato ketika peringatan HUT ke-60 PGRI pada 27 November 2005 di GOR Manahan, Solo, Jateng.

“Memang sekolah kita belum luks, tetapi saya yakin sekolah kita tidak seperti kandang ayam,” ujar beliau tegas yang membuat ribuan guru terdiam.

Ironis…mungkin Wapres Bapak Jusuf Kalla belum melihat kondisi bangunan salah satu SD negeri di Lebak, Banten, itu.

Kata luks itu menurut saya juga terlalu hiperbolis.

Saya hanya berharap agar sekolah yang kondisi bangunannya seperti salah satu SD negeri di Lebak, Banten, itu direnovasi.

Tidak perlu luks.

Yang penting layak.

Layak itu maksud saya bangunan sekolah di Indonesia harus berlantaikan ubin, berdindingkan tembok, dan beratapkan genteng.

Saya hanya bisa berdoa agar bangunan salah satu SD negeri di Lebak, Banten, itu segera direnovasi.

Pakai dana siapa?

Jawabannya jelas yaitu dana APBN dan APBD.

Dalam UUD 194545 pasal 31 ayat 4 disebutkan bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Sebuah pertanyaan mengemuka dari benak saya yaitu tepatkah penggunaan kata prioritas dalam pasal itu jika kita melihat implementasinya?

Jawaban saya adalah tidak tepat.

Menurut saya, jika seseorang telah memprioritaskan sesuatu, sesuatu itu akan diperjuangkan dan tidak boleh tidak terwujud.

Tahukah Anda bahwa anggaran pendidikan 2005 hanya 25 trilyun rupiah atau sekitar 7% dari total APBN (majalah Sketsa, Oktober 2005)?

Padahal menurut perkiraan, total APBN 2005 sekitar 336-356 trilyun rupiah (sesuai pendapat Balitbang Depdiknas).

Jika negara benar-benar memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN, seharusnya anggaran pendidikan 2005 adalah sekitar 71 trilyun rupiah.

Bukankah telah terjadi penyimpangan terhadap UUD 1945 pasal 31 ayat 4?

Ketika saya menonton Republik BBM pada 27 Maret 2006, Bapak Effendi Gazali berkata bahwa UUD 1945 pasal 31 ayat 4 baru akan diimplementasikan mulai 2009 dan beliau juga berkata bahwa Wapres Bapak Jusuf Kalla telah berjanji bahwa pada 2008 tidak akan ada lagi sekolah yang tidak layak seperti yang saya sebut di atas.

Rasanya lama sekali pendidikan Indonesia harus menunggu hingga 2009 padahal masalah-masalah Indonesia semakin banyak dan semakin kompleks.

Menurut saya, pendidikan pantas dan harus diprioritaskan karena saya yakin bahwa pendidikan adalah salah satu solusi masalah-masalah Indonesia dan saya juga yakin bahwa pendidikan yang berkembang akan mampu membawa Indonesia keluar dari keterpurukan.

Bocah Itu Terlalu Dini


Alkisah pada suatu malam saya mendengar seorang bocah menyanyikan lagu Kupu-Kupu Malam.

Sebut saja namanya Bocil (bukan nama sebenarnya).

Lalu saya tanya, “Cil, emang kupu-kupu malam artinya apa?”

Bocil menjawab, “Kupu-kupu malam itu yang suka bikin cowok lemes, terus dia lemes juga.”

Saya dan teman-teman saya langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Bocil.

Saya bergumam, “Bocil hanyalah satu dari sekian banyak bocah yang terlalu dini mengenal…(implicit content).”

Saya punya satu cerita lagi.

Seorang teman pernah cerita.

Pada suatu hari keponakannya sedang menonton TV sama ayah teman saya.

Lalu muncul adegan french kiss.

Ayah teman saya langsung mengganti channel, tetapi bocah itu malah bertanya mengapa channel-nyadiganti.

Bocah itu berkata bahwa dia telah terbiasa melihat adegan seperti itu.

Kisah tentang dua bocah yang saya ceritakan di atas hanyalah dua dari sekian banyak bocah yang terlalu dini mengenal…(implicit content) karena sosialisasi primer yang kurang sempurna.

Seharusnya seorang ibu sebisa mungkin harus selalu mendampingi anaknya (seorang ayah tidak harus selalu mendampingi anaknya karena harus mencari nafkah).

Misalnya ketika anaknya menonton TV, seorang ibu sebisa mungkin harus selalu mendampingi dan memilihkan tayangan yang baik untuk anaknya.

Indonesian Idiot


Don’t wanna be Indonesian idiot.
Don’t want nation under new colonizer.
Colonized by Indonesian corruptor.
The subliminal mind f**k corruptor.

Welcome to new kind of colonial.
All about the fund embezzlement…
where corruptor does brybery.
Indonesian people are still crying.
They are still praying and still hoping…
someday corruption will be destroyed.

Don’t wanna be Indonesian idiot…
who doesn’t have reading willingness.
Indonesia took place hundred eleven…
in human resource quality list.

Welcome to new kind of life style.
They prefer reading porn magazine…
to reading useful book.
Indonesian dream for the future.
Reading become habit and education…
will bring us out from trouble.

Don’t wanna be Indonesian idiot.
One nation controlled by IMF.
Always follow IMF suggestion.
Calling out to idiot Indonesia.

Welcome to a new kind of colonial.
All about the fund embezzlement…
where corruptor does bribery.
Indonesian people are still crying.
They are still praying and still hoping…
someday corruption will be destroyed.

Lirik di atas adalah pelesetan lirik lagu American Idiot milik Green Day.

Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa orang Indonesia idiot.

Dalam lirik pelesetan tersebut secara implisit terkandung harapan saya agar orang Indonesia tidak dibodohi lagi oleh koruptor, hal yang berbau porno, IMF, dan masih banyak lagi hal yang kurang berguna.